Sabtu, 23 Juli 2016

Silaturrahmi KAHMI se-Madura Bersama Majlis Nasional Korps Alumni HMI Prof. Dr. Moh. Mahfud Md





Silaturrahmi KAHMI se-Madura
Bersama Majlis Nasional Korps Alumni HMI
Prof. Dr. Moh. Mahfud Md

Acara silaturrhmi KHMI se-Madura yang diseleggaarakan oleh presidium  KHMI daerah Pamekasan mengangkat tema Konsolidasi organisasi menuju Indonesia yang bermartabat, tema ini relevan dengan kondisi bangsa saat ini  papar presidium KHMI Pamekasan Dr. gazali. MM dalam mengawali sambutan pertama.
Sambutan kedua disampaikan oleh Bupati Pamekasan yang dalm hal ini diwakili oleh SEKDA bapak Alwi Beiq, dia menyampaikan permohonan maaf bupati karena beliau tidak bisa menghadiri acara KHMI se-madura ini. Dalam teks sambutannya menegaskan bahwa kelahiran dan perjuangan kader  HMI terhadap bangsa ini sangat besar mulai dari berdirinya pada tahun 1947-sekarang oleh karena besar harapan dari kami regenerasi kader HMI harus tetap dijaga supaya kontribusi-kontribusi terhadap bangsa saat ini semakin rill.
Sambutan terakhir sekaligus orasi ilmiah disampaikan oleh Prof. Dr. Mahfud Md dalam  mengawali sambutannya beliau menjelaskan tentang sejarah perjuangan  HMI dalam membantu pemerintah membrantas PKI pada tahun 1948 bersama jendral soedirman,oleh sebab itu menurut soedirman HMI bukan hanya himpunan mahasiswa islam tetapi harapan masyrakat Indonesia.
Mantan ketua mahkamah konstitusi itu juga mewajibkan bagi para KAHMI untuk berpolitik menurut beliau politik adalah fitrah. Pernyataan ini didasarkan atas kaidah usul fiqh yang menyebutkan bahwa `tidak akan sempurna hal-hal yang bersifat wajib tanpa ditopang oleh hal-hal yang mewajibkan pula, menurutnya menyebarkan nilai-nilai  islam kepada umat untuk kebaikan hukumnya wajib. Maka cara atau sarana untuk merealisasikan sesuatu yang wajib itu, hukumnya wajib.
Mantan aktifis HMI cabang Jogjakarta itu lebih lanjut menjelaskan poitik dan agama ibarat dua saudara kembar,  tidak mungkin seseorang bisa memperjuangkan agama tanpa memiliki kekuasaan. Maka upaya untuk  meraih kekuasaan sebagai sarana menyebarkan nilai-nilai keislaman adalah menjadi keharusan yakni politik. Agama dan politik salaing keterkaitan, agama merupakan dasar atau pedoman sedangkan kekuasaan adalah pengawal.
Perintis pergerakan mahasiswa islam Indonesia di UII itu juga memaparkan cara-cara yang ditempuh nabi Muhammad saw dalam memperluas ajaran islam yang ia sebut dengan istilah `peta jalan`pertama mengajak manusia bertauhid dan kedua menyebarkan islam melalui politik. Ajaran bertauhid ini seperti yang tertuang didalam al-quran iqra` bismirobbikalladi kholak.
Setelah itu beliau berjuang melawan ketiadak adilan menentang pemimpin yang tidak adil anti kemanusiaan dan tidak peduli trhadap kesejahteraan umat termasuk yang dilakukan oleh pamannya sendiri abu jahal dan abu lahab ini artinya perintah awal yang diterima nabi adlah melawan ketidak adilan dengan tujuan untuk  membangun kesejahtraan masyarakat, menurut beliau kita bernegara ini, sebenarnya sama dengan berislam  yakni melawan ketidak adilan dan kesewenang-wenangan.
Selain membahas itu beliau juga mengigatkan akan pentingnya melakukan internalisasi  nilai-nila shalat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurut dia shalat bukan hnay dimaknai sebagai bentuk ibadah ritual saja akan tetapi harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Makna dua salam dalam tahyat akhir itu sebagai ibadah horizontal. Sedangkan takbir dalam permulaan shalat dimaknai sebagai bentuk ibadah vertical.
Dibagian akhir orasi ilmiahnya, mahfud md berpesan mengajak kahmi agar menjadi promoter dalam menjaga keutuhan Negara kesatuan republik Indonesia (NKRI) dengan memperkuat nilai-nilai keumatan dan kebangsaan serta menghargai segala suatu yang menjadi keputusan bersama.

Writeen by * Abd malik
Pamekasan, sabtu 16 juli 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar